Malam bergulir semakin larut. Entah mengapa mataku tak kunjung mengantuk. Ku coba tuk pejamkan mata, sia sia. Lelah mataku terpejam namun fikiranku tetap melayang layang entah kemana. Ku buka lagi ponsel ku, kumainkan lagi hingga mataku lelah. Tak terasa aku telah terlelap dalam gelisah.
Dalam tidurku yang gelisah aku bermimpi berada ditepi jurang. Dalam mimpi aku bertemu dengan sepupuku dari pihak ayahku, yang ku fikir aku dulu pernah cukup dekat dengannya. Berbagi cerita, hingga aku sadari ternyata dia menyembunyikan sesuatu dariku yang membuatku tak lagi percaya padanya.
Dalam mimpi itu, aku melihat beberapa sepatu milik keluarga sepupuku jatuh didasar jurang. Sering kali dalam mimpi aku melakukan tindakan diluar nalarku, tapi kali ini tubuhku bergetar takut untuk turun ke dasar jurang. Biasanya aku sangat peduli dengan orang lain. Aku tak bisa melihat raut kekecewaan diwajah orang lain. Tapi kali ini aku merasa perlu untuk bersikap egois dengan tidak memperdulikan mereka.
Masih dengan badan gemetar aku merangkak menjauh dari tepi jurang. Biarlah dia marah, biarlah dia kecewa. Toh selama ini aku tak pernah merepotkannya. Aku ingin egois sekali kali. Meski tetap tidak enak hati. Biarlah. Biarlah. Biarlah.
Perlahan sayup sayup ku dengar suara azan subuh, aku terbangun dan tak lagi bisa memejamkan mata namun masih enggan bangkit dari pembaringanku. Manalagi di luar sana ku dengar rintik hujan, membuatku makin malas beranjak dari posisiku saat ini.
Pikiranku melayang kembali pada mimpiku semalam. Haruskah aku egois untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri? Apa yang sebenarnya aku inginkan saat ini? Ya Allah ampunilah aku yang melalaikan-Mu. Yang masih terus jauh dari-Mu.
Morning all...