Tak ada manusia yang memiliki segalanya di muka bumi ini... Pasti ada cacat dan celanya. Tapi bagaimana pun kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Cacat dan cela bukan sebagai penghalang kita buat meraih cita-cita dan impian. Selagi mau berusaha cita-cita dan impian itu akan terwujud, hanya saja waktu terwujudnya yang kita belum tau pasti.
Teman... Kritik pedas itu biasa, dengarkan saja. Barangkali suatu hari kritik itu menjadi sangat manis jika dikenang. Buat kritikan itu sebagai senjata pelecut diri untuk lebih kuat dalam menghadapi dunia yang semakin gila ini. Boleh ikut arus tapi jangan sampai hanyut, maksudnya ikuti trend masa kini boleh bila hal tersebut masih positif, tapi bila sudah mengarah ke hal negatif hindari saja. OK?
Beberapa waktu lalu ada hal yang menurutku cukup menyayat hati. Beritanya bunuh diri hanya karena skripsi tidak selesai-selesai. Skripsi hanyalah salah satu masalah hidup yang sederhana, mengapa harus dibuat begitu sulit. Bukankah kita diajarkan untuk menyederhanakan baik itu di ilmu matematika atau ilmu kehidupan? Masalah yang besar dibicarakan agar menjadi kecil, dan masalah kecil menjadi tak bermasalah. Skripsi bukan sesuatu yang tidak dapat diatasi, itu hanya seberapa tahan kamu dengan batu sandungan didepanmu. Tidak perlu menghindar karena tidak sampai membuatmu terjungkal.
Entah mengapa jika memikirkan nasib diriku, aku merasa punya masalah yang lebih pelik dari sekedar masalah skripsi. Tapi, haruskah aku bunuh diri? Tidakkah lebih baik aku tanggung ini dan terus menjalani hidupku meskipun banyak yang menghinaku? Bukankah badai akan berlalu meskipun menyisakan porak poranda disekitarnya dan menerbitkan senyuman setiap insan yang selamat?
Pikiran ingin pergi, namun hati ingin tinggal.... mana yang harus kupilih?
Berat jika harus pergi dan meninggalkan... tak berdaya itulah yang aku rasa... sebuah rasa yang menyiksa. Lelehan air mata mengalir bak air bah tak terbendung, hanya dengan sedikit pemicu sudah membuatnya mengalir tanpa henti.